Kamus Besar Bahasa Indonesia menggambarkan embrio
sebagai bakal anak (dalam kandungan)
hasil pembuahan sel telur pada stadium permulaan yang kemudian menjadi janin,
yang berumur antara satu minggu sampai delapan minggu (pada manusia). Dalam
berbagai kontemplasi, istilah ini sering digunakan untuk melukiskan sesuatu
yang ingin tumbuh, yang ke depannya bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar,
berfaedah, bahkan tak jarang menjadi fenomenal.
Pergulatan sejarah bangsa Indonesia, sebagai contoh, menggariskan
beberapa kejadian penting yang patut dikatakan sebagai suatu embrio. Peristiwa
Sumpah Pemuda 1928, misalnya, merupakan cikal bakal perjuangan para pemuda
Nusantara yang tersadarkan diri dari sebuah unconsiousness
massal bernama perjuangan yang masih bersifat kedaerahan. Meminjam jargon kaum
buruh Indonesia (dan mengganti sedikit frasenya), Sumpah Pemuda menjadi sebuah
embrio yang membuat para pemuda kala itu merasa jika “pemuda bersatu, tak bisa
dikalahkan”.
Jika ditarik ke belakang, sejarah bisa berkata
lebih banyak mengenai hal ini. Sebelum adanya manifesto 1928 tersebut, pada
tanggal 20 Mei 1908, sekelompok anak “kemarin sore” dari berbagai sekolah
lanjutan di Jawa bersepakat untuk saling membebatkan diri dalam suatu
perkumpulan pemuda bercorak nasionalis. Perkumpulan itu menyorongkan sebuah
semboyan agung: indie vooruit (hindia
maju), meskipun kental sekali aroma Javasche
di dalamnya. Perkumpulan itu kemudian kita kenal dengan nama Boedi Oetomo.
Kedua fakta sejarah di atas bukanlah peristiwa yang
“sekedar peristiwa”. Keduanya terpatri jelas dalam ingatan bukan tanpa alasan.
Kelahiran Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda adalah embrio dari hal-hal besar yang
terjadi dalam masa setelah keduanya muncul ke permukaan; sebagai prolog dari
cerita-cerita epik yang terkisah pada era berbeda perjalanan bangsa kita.
Tentu tak akan terpikirkan oleh Wahidin
Sudirohusodo, tokoh Boedi Oetomo, bahwa pada tahun 1998 pemuda Indonesia
menjadi tulang punggung pergerakan revolusioner bernama reformasi. Atau bagi
Muhammad Yamin, salah seorang arsitek Sumpah Pemuda, yang pastinya tidak
memproyeksikan bahwa 80 tahun setelah ikrar Sumpah Pemuda dibacakan, pemuda di
seantero negeri menjadi penggerak lini perekonomian baru bernama industri
kreatif.
Tanpa ada embrio, mustahil muncul sebuah organisme
baru bernama manusia. Tanpa ada penggerak, tidak mungkin roda-roda mobil
bergerak mengalur di sebuah jalan raya. Kalau kata Soekarno, mantan presiden
kita yang gemar bermain kata-kata, Tuhan
tidak merobah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya.
Tanggal 6 dan 7 September 2014 menjadi milestone yang istimewa bagi Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa MAHKAMAH Fakultas Hukum UGM (MHK), perkumpulan tempat saya bernaung selama menjadi mahasiswa.
Perkumpulan ini, atau dalam bahasa Spanyol disebut dengan organizaciĆ³n,
bergerak dalam suatu jalur bernama pers mahasiswa (persma), jalur yang dewasa
ini tak lagi menjadi primadona bagi mahasiswa baru (maba) ketika menaruh
pantatnya di bangku kuliah. Dalam dua hari tersebut, MHK mengadakan kegiatan
Malam Keakraban (makrab) guna menyambut kedatangan penghuni-penghuni baru
organisasi yang tahun ini menginjak usia ke-25 itu.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam
pelaksanaan kali ini ada sebuah pemandangan baru yang membuat saya sumringah.
Jumlah peserta makrab tahun ini meningkat tajam dari makrab yang sudah-sudah,
yaitu berjumlah 24 orang. Bahkan jika jumlah peserta makrab tahun 2012 dan 2013
digabungkan, populasinya tidak mencapai angka 20 orang! (8 orang peserta makrab
2012 dan 6 orang pada tahun 2013). Apabila sebelumnya saya pernah “dihardik”
oleh seorang alumni MHK, bahwa proses kaderisasi yang berlangsung di MHK
berjalan mundur, apa yang terjadi tahun ini sungguh membalikkan premis
tersebut.
Apa mungkin baru tahun ini Fakultas Hukum UGM
kedatangan maba-maba yang otaknya cenderung miring dan cutting edge? Atau bagaimana bisa organisasi yang tidak terlalu
moncer dalam urusan mengadakan event-event spektakuler seperti MHK mampu
menyedot atensi mereka yang masih lugu dan nirprasangka itu? Pertanyaan
tersebut baru bisa terjawab ketika waktu sudah berjalan, sehingga terlihat
jelas siapa dari antara mereka yang benar-benar sinting, nyeleneh, atau
meminjam sebuah kosakata dalam dunia musik, sebagai orang-orang yang anti mainstream.
Dua puluh empat calon ksatria kata-kata tersebut tentu
berangkat dari kota yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Padang, Purworejo,
Lombok, Jakarta, Semarang, Gresik, Pekanbaru, dan tentunya dari tempat
berdirinya UGM, Yogyakarta. Mereka juga memiliki latar belakang pengalaman
berorganisasi yang beragam. Dari calon awak (istilah untuk menyebut penghuni
baru MHK) yang datang dari angkatan 2014, ada yang ketika SMA menggeluti OSIS,
MPK, KIR, dan Klub Jurnalistik SMA.
Lain lagi dengan calon awak angkatan 2013 dan 2012,
yang masing-masing sudah satu dan dua tahun “terjebak” di kampusnya Florence
Sihombing. Beberapa dari antara mereka cukup kenyang menimba pengalaman di
organisasi intrakampus macam Dema Justicia, ALSA (Asian Law Student
Association), KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), juga KMFH (Keluarga Muslim
Fakultas Hukum). Di luar itu, ada calon awak yang sebelum mendaftar MHK sama
sekali nirpengalaman soal urusan aktivisme siswa atau mahasiswa, yang tentunya
tidak bisa dipandang sebelah mata hanya karena belum punya sematan sebagai
seorang “aktivis muda”. Saya sendiri sebelum berkecimpung di lingkungan persma
hanya mengantungi pengalaman menjadi pengurus Rohani Kristen ketika masih SMA.
Terlepas dari keanekaragaman tersebut, dalam
pengamatan saya ada sebuah perekat yang menyatukan mereka semua, yaitu
ketertarikan akan dunia persma, dunia yang lekat dengan kegiatan membaca,
menulis, dan berdiskusi. Bak Darth Sidious yang mengajak Anakin Skywalker untuk
bergabung ke Dark Side dalam saga Star
Wars, tiga pilar persma tersebut
seakan-akan membius mereka ke dalam sebuah kubangan intelektual bernama MHK.
Mengapa kubangan intelektual, dua kata dalam bahasa
Indonesia yang auranya saling bernegasi? “Kubangan” identik dengan sesuatu yang
kotor, kurang sedap dipandang, dan menggelisahkan, in the other side, kata “intelektual” digunakan untuk menggambarkan
hal yang agung, berfaedah, dan sesuatu yang unggul dari sekelilingnya secara
pikiran dan perbuatan.
Gamblangnya, MHK sebagai kubangan intelektual
adalah wahana yang tidak terlalu sedap dipandang (ruang sekretariat yang kecil
dan tertutupi oleh ingar-bingar kantin kampus di sebelahnya), perkumpulan yang
menggelisahkan (dari sekedar gosip bisa menjadi karya jurnalisme investigasi
yang menggegerkan), bahkan kotor! (melalui diskusi-diskusi nyeleneh yang biasa
terdengar dari balik dinding sekre, dari mulai politik, filsafat, wanita,
sampai dosen-dosen taik). Akan tetapi, MHK menyediakan ruang sebebas-bebasnya
bagi penghuninya untuk menulis, membaca, dan berdiskusi sebagai “perbuatan
intelektual”, sehingga menghasilkan produk-produk seperti buletin, leaflet,
website, yang tak hanya asal tulis, tetapi melalui proses etis dan sepenuhnya tunduk
pada proses ilmiah.
Tahun ini, tepat tiga tahun saya beraktivitas di
MHK. Bukan suatu periode yang singkat, selama tiga tahun tak terhitung cerita
yang terkisah dan kemudian menjadi pengalaman tak terlupakan dalam benak saya.
Bagi saya, MHK bukan sekedar pengalaman berorganisasi untuk menambah daya jual
saya nantinya ketika harus berlomba dalam job
fair, atau sebagai kegiatan pengisi waktu ketika tidak sedang diperas
otaknya oleh dosen dan ujian-ujian berkala. MHK adalah keluarga, rumah, sesuatu
yang menyatu dengan nafas dan pemikiran saya mengenai kehidupan. Mengenai
tangga yang saya tapaki selama disana, dari mulai menjadi staf Divisi Redaksi,
Kepala Divisi Litbang, sampai saat ini dipercaya menjadi Pemimpin Umum,
hanyalah bumbu penyedap perjalanan yang mustahil untuk terulang kembali di masa
yang akan datang.
Harapannya, para calon awak tahun ini nantinya juga
akan merasakan yang demikian. “There is
no home like what you’ve got, ‘cause that home belongs to you”, kalau dalam
lagu Barking at the Moon, soundtrack film animasi keluaran Disney
berjudul Bolt yang mencacah perasaan itu. MHK adalah rumah untuk kalian, tanpa
uang muka dan penawaran terbuka di televisi swasta pada akhir pekan.
Berkecimpung di MHK adalah embrio kalian sebelum
menjadi hal-hal yang tergambar dalam cita-cita kalian, entah menjadi seorang
pengacara, PNS, politikus, hakim, jaksa, bahkan sastrawan. BPPM Mahkamah adalah
rahim yang tepat untuk menyemaikan embrio kehidupan. Tentu jangan sampai abortus (keguguran), dimana nantinya
dari keduapuluh empat peserta makrab, hanya segelintir yang bisa bertahan dari
“seleksi alam”! (istilah yang biasa terdengar di MHK untuk menyebut semakin
sedikitnya awak yang bertahan di MHK).
Baca, Tulis, Lawan!!!
No comments:
Post a Comment