Showing posts with label vakansi. Show all posts
Showing posts with label vakansi. Show all posts

September 10, 2014

Bukan Lautan, Bukan Kolam Susu, Hanya tentang Pelaut yang Gagah Berani (Bagian Kesatu)



“Biasanya, dari jam tiga petang kami baru pulang pagi besoknya.”
Pagi itu, Anto Siregar tampak tegap menatap ke arah laut lepas. Sebuah kepuasan yang mantap begitu menderas terlihat dari air mukanya. “Tiga tahun sudah saya menetap disini bersama istri dan kedua anak saya”, ujar pria paruh baya asli Tanah Batak tersebut. Sebelumnya, Bang Anto, begitu aku menyapanya, mencari peruntungan di daerah Tanjung Balai, Karimun, Kepulauan Riau. Aku tak menanyakan alasan apa yang membawanya jauh hingga ke Natuna untuk menggamit penghidupan. Yang jelas, peluh yang perlahan pupus dari tubuhnya mengisyaratkan sebuah jawaban: dimana ada ikan liar berkejaran, disitu aku ada, disitu uang terkumpul, dan aku serta keluargaku bisa makan dan membeli barang sehelai pakaian.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, puluhan orang berkumpul mengerubungi bagian belakang kapal yang tertambat di dermaga. Dermaga Tanjung, tempat kapal Bang Anto berlabuh setiap pagi, memang menjadi pasar bagi penduduk Desa Tanjung untuk membeli ikan, juga bagi para pedagang yang membeli ikan untuk dijual kembali di Ranai, ibukota Kabupaten Natuna. Bagi desa pesisir seperti Desa Tanjung, ikan bagaikan cinta yang tak terhindarkan. Datangnya tak dapat ditangkis, mau tak mau harus diterima sebagai sebuah bentuk ikatan yang tak akan mungkin lepas. Kalau tak makan ikan, lalu sehari-hari mau makan apalagi? Kalau tak membeli di Dermaga Tanjung, lalu mau beli dimana?
Selain sebagai tempat si pembeli memperoleh barang dari orang kesatu, yakni si nelayan, keramaian yang tercipta di Desa Tanjung tersebut sekaligus menciptakan sebuah ruang interaksi. Ruang yang menjadikan si A, si B, dan “si” yang lain saling bercengkrama, entah sekedar menanyakan kabar atau membicarakan kejadian-kejadian lucu yang terjadi di hari yang lalu.
Tak ada stratifikasi yang menyembul dalam interaksi tersebut. Mereka, yang jelas, disatukan oleh sebuah tautan bernama cinta yang tak terhindarkan. Cinta yang aneh memang, jika kemudian dihubungkan dengan pertalian yang tercipta dalam “cinta” tersebut: pertalian antara predator dengan mangsanya. Sebuah pertalian yang sudah ada sejak lampau, sebagaimana memang dititahkan oleh sang Pencipta kepada manusia untuk menikmati segala ciptaanNya sebagai bekal menyambung hidup.

***

“Sekarang ini sedang angin selatan. Kalau mau ikut melaut bahaya.”
Bang Anto dan dua orang kawannya, seorang awak kapal dan nahkoda yang memiliki kapal, memutuskan untuk tidak melaut hari itu. Ujarnya, Laut Natuna sedang gamang, jika badai datang menghempas dapat sewaktu-waktu melenyapkan asa yang mengiringi lajunya kapal. Tidak hanya asa tiga orang awak kapal tersebut, di dalamnya ada harapan penduduk Desa Tanjung yang menggantungkan kebutuhannya pada hasil tangkapan tiga orang pendekar lautan tersebut. Pupus sudah niatku untuk sekali saja mengekor perjalanan mereka mengarungi lautan. Bagaimana tidak, mereka yang nafasnya menyatu dengan air laut saja sudah menyerah, apalagi aku yang sekalipun belum pernah menjala ikan dan menjadi harapan banyak orang?

***

Lain Bang Anto, lain pula Ais. Anak berusia tujuh tahun tersebut seakan menjadi dikotomi dari keraguan yang membubung dari dahi Bang Anto dan kawan-kawan. Ais, siswa kelas 1 SD asli Desa Tanjung, berhasil menangkap dua ekor kerapu berukuran setengah lengan orang dewasa, hanya dengan kail berupa benang sederhana yang dikemas layaknya gulungan sebuah layang-layang! Peristiwa tersebut langsung terendus banyak orang yang berada di Dermaga Tanjung. Tetapi dari sekian orang yang menyaksikan kehebatan Ais itu, hanya seorang saja yang tertawa paling nyaring: si pembeli. Kedua ikan tersebut dibeli oleh seorang pedagang ikan hanya dengan banderol Rp. 10.000,00 perekor saja!

Ketika kutanyakan kepada Rinto, seorang kawan asal Jurusan Perikanan yang saat itu bersamaku di Dermaga Tanjung, tangkapan Ais tersebut biasanya dijual dengan harga Rp. 50.000,00 setiap ekornya. Dua puluh ribu rupiah bagi anak seumur Ais tentu bukan barang yang sedikit. Dengan uang sejumlah itu, Ais yang jelas telah mencapai titik kepuasan yang tidak bisa dimaknai orang lain selain dirinya. Bahkan oleh si pembeli yang mungkin tidak akan bisa mendapat privilese mendapatkan ikan semurah itu di tempat dan kesempatan lain dalam hidupnya.

***

“Ombak boleh saja besar, angin bisa saja kencang, tetapi harapan akan terus ada.”
Berharap memang tidak pernah salah. Setelah sekitar seminggu dikatungkan oleh asa, akhirnya niatan untuk ikut melaut kesampaian juga. Melalui Rinto yang memang memiliki program KKN terkait usaha penangkapan ikan, Bang Anto memperbolehkan kami dari Regu KKN PPM UGM KPR 01, mengikuti perjalanan rutinnya menangkap ikan. Seluruh anggota regu? Tentu tidak, mengingat ukuran kapalnya yang tidak terlalu besar dan memiliki kapasitas personal yang terbatas. Malah lebih cocok kalau kapalnya dipanggil pompong, kata yang digunakan oleh penduduk Natuna untuk menyebut kapal kecil berbahan kayu. Kemudian diputuskanlah mereka yang akan berangkat dalam fishing trip tersebut: Rinto, aku, dan Dino, mahasiswa Sosiologi yang juga bagian dari kelompokku. 
Dari kiri ke kanan: Rinto, aku, dan Dino. Tak terbayangkan
jika wajah-wajah gembira ini justru akan "menderita" oleh
serangan mabuk laut.
  
***

Hari itu, Rabu, 6 Agustus, bisa dibilang menjadi idaman setiap orang yang mencintai pancaran sinar matahari di tepi pantai. Cuaca cukup cerah, awan yang berkejaran pelan di langit terlihat padu dengan air laut Dermaga Tanjung yang tidak terlihat gamang. Awal yang baik untuk sebuah perjalanan penuh tantangan dan harapan, begitu pikirku.
Pukul 3 sore, seperti yang pernah dikatakan Bang Anto kepadaku sebagai waktu keberangkatannya melaut, kami bertiga tiba di Dermaga. Suasana begitu sepi, keramaian yang biasa terlihat di pagi hari tidak menyisa sedikitpun disana. Pompong Bang Anto tertambat sendirian di tautan ujung dermaga, seperti mengisyaratkan bahwa ia sudap siap untuk digalakkan menuju laut lepas. 
Setengah jam berlalu dari pukul tiga, Bang Anto dan kawan-kawannya tak kunjung menampakkan diri. Rasa gelisah mulai menyembul di antara kami, dengan satu pertanyaan yang kami risaukan bersama: apakah hari ini Bang Anto tidak melaut? Langit memang cerah, namun pelaut berpengalaman seperti bang Anto mungkin berpikiran berbeda. Bisa saja Bang Anto dan kawan-kawan tidak melihat langit Tanjung yang membiru sebagai pertanda kelancaran sebuah perjalanan melaut. Merekalah, berdasarkan pengalamannya, yang mengetahui pertanda hujan akan turun ataupun angin kencang akan melenyapkan pompong sewaktu-waktu ke dalam lautan. Sekali saja nekat, maut tentunya yang akan melekat. (bersambung)




   

Di atas kapal, waktu adalah jalan raya panjang yang kosong dan tanpa keindahan


                                         
Duduk terasa membatu, aliran darah seakan berhenti mengikuti berhentinya pusaran waktu. Mata berlompatan melihat-lihat lalu-lalang manusia yang entah mengapa banyak sekali jumlahnya. Segala jenis bentukan Tuhan yang paling mulia bisa kamu lihat dengan telanjang. Wanita tua yang melepas lelah sembari mengisap rokok. Anak-anak kecil yang saling berkejaran menyusuri lorong lambung kapal yang seakan susut karena nafas-nafas menyesak. Lelaki yang duduk di belakang kapal, memakan bekal yang disimpan dari pelabuhan (karena harga pangan di kapal yang tak masuk di akal). Para penunggu waktu berbuka puasa yang memunggungi lautan dan saling berbicara dalam satu bahasa: Rasa Bosan. Serta manusia-manusia lain yang terempas di atas kapal bukan karena cela.

Kapal Motor Bukit Raya memulai pengelanaannya dari Tanjung Priuk, Jakarta, untuk selanjutnya menyusuri Laut Jawa hingga ke salah satu pintu terakhir negeri: Kepulauan Natuna. Kapal ini dibagi dalam tiga kelas, dari Kelas yang paling menjunjung kemanusiaan (Kelas I), Kelas yang cukup manusiawi (Kelas II), hingga Kelas yang tidak cukup manusiawi untuk dinaiki (Kelas III). Salah satu kapal milik PT PELNI ini bisa dibilang kapal jompo, usianya sudah dua puluh tahun. Jika manusia berumur dua puluh tahun adalah sosok yang siap menuju usia dewasa, kapal laut yang berusia dua puluh tahun adalah kapal yang terasa amat lapuk dan menyusahkan.

Selama perjalanan KM Bukit Raya singgah di empat titik, Belinyu, Kijang, Letung, dan Tarempa, sampai akhirnya melonggarkan jangkar di Pulau Natuna Besar. Empat hari kemudian, sampai saya menuliskan catatan ini, tubuh masih terasa seperti di atas kapal. Bergoyang-terempas-terserak seakan masih ada di dalam dek kumal kapal yang kabarnya tidak akan berlayar kembali setelah lebaran puasa nanti.     

Desa Tanjung, Natuna, 20 Juli 2014. Gambar diambil menggunakan ponsel Nokia Lumia 720.

Ratusan karung berisi bahan makanan berupa sayuran, bawang, dan telur,
diturunkan dari kapal ketika tiba di pelabuhan Selat Lampa, Natuna. Sebuah ironi, sebagai salah satu
kabupaten di Indonesia dengan APBD pertahun tertinggi, penduduk Natuna justru
menggantungkan kebutuhan pangannya terhadap muatan yang dibawa oleh KM Bukit Raya ini secara berkala.
Di Letung, Kepulauan Anambas, KM Bukit Raya tidak dapat membuang sauh di tepi daratan,
akibat dangkalnya perairan di sekitarnya. Hal tersebut disiasati dengan adanya pompong
(istilah dalam Bahasa Melayu untuk menyebut kapal kecil berbahan kayu).
Calon penumpang asal Letung yang ingin masuk ke dalam kapal terlebih dahulu diangkut
dengan menggunakan pompong. Secara perlahan, badan pompong kemudian "menempel"
ke lambung kapal, di saat yang bersamaan tangga kapal diturunkan untuk mengangkut mereka.
Ribuan orang mengantre agar bisa masuk ke dalam kapal,
Tarempa, Kepulauan Anambas. Sebagai satu-satunya alat
transportasi yang (ketika itu) beroperasi, KM Bukit Raya
seakan-akan menjadi primadona mendadak bagi mereka yang
bertujuan ke Natuna.
Di Pelabuhan Tarempa, Kepulauan Anambas, perhentian
terakhir sebelum sampai ke Natuna. Massa semakin tidak
terkendali, awak kapal bahkan kewalahan; seperti tidak
mengantisipasi sebelumnya terkait lonjakan penumpang
yang naik dari Tarempa.
Hiruk-pikuk Pelabuhan Belinyu tidak mengusik kedua
nelayan tradisional setempat, karena kalau tidak melaut,
mereka tidak dapat uang, tidak bisa makan, apalagi
membeli sekedar sandang.
Pelabuhan Belinyu, Pulau Bangka,
perhentian pertama KM Bukit Raya sejak start dari
Tanjung Priuk. Kapal yang semula terasa lengang mendadak
mulai disesaki oleh manusia.





March 1, 2014

Catatan dari Tur Jawa Barat Bagian Tengah-Selatan: Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda



Fast-forward. Tiba juga akhirnya di Gerbang Utama Tahura Djuanda. Romantisme masih menggelayuti pikiran saya begitu melihat suasana Tahura Djuanda yang masih serupa seperti apa yang tersisa di dalam ingatan. Teringat kembali ketika saya untuk kali yang pertama ke sana, bersama teman-teman dan guru-guru sekolah minggu HKBP Riau dalam suatu helatan Paskah. Foto-fotonya masih rapi terpajang di album foto yang tersimpan di rumaah saya, di Jakarta. Juga ketika bersama teman-teman SDK Paulus  3 dalam rangka karyawisata. Serta puluhan kunjungan lain yang tidak perlu disebutkan rasionya satu-persatu. Pada intinya, kenangan-kenangan tersebut muncul kembali mengemuka, tepatnya di bawah panas matahari Bandung 2014 yang tidak terhindarkan datangnya. Tidak seperti Bandung pada awal–awal masa kecil saya tentunya ,dalam medio tahun 2000-2006.

Saya pun masuk ke dalam area Tahura Djuanda setelah sebelumnya membayar bea masuk. Mulanya saya tergiur dengan keberadaan tukang rujak yang mendirinkan dagangannya tepat di depan loket pembelian tiket. Tetapi karena belum terlalu dilalap dahaga, juga masih ada sebotol air mineral sebagai perbekalan, niat untuk menikmati sepiring rujak kemudian hilang begitu saja.

Cucuran peluh pada tubuh yang juga membasahi kaus kebangsaan saya, kaus hitam betruliskan “JOY DIVISION” dan gambar sang pujaan, Ian Curtis di muka, lama kelamaan mongering, seperti mengikuti aura teduh yang ditawarkan peppohonan beraneka nama yang berjejer di tepian jalan berbatu yang saya tapaki. Tanpa perlu mengusap wajah untuk menghilangkan peluh, wajah saya terasa seperti segar kembali, seperti baru selesai mencuci muka di sebuah mata air pegunungan. Kaki pun ringan untuk diayunkan, mengikuti alunan keheningan di dalam perasaan yang sejak awal tiba di Tahura Djuanda sudah menguasai saya. Tidak tersisa terik sinar matahari karena ditutupi daun-daun hijau yang mengayomi batang-batang pohon menjulang.



Kenyataan bahwa hidup itu terus bergulir memang cukup menyakitkan. Tanpa peduli ada sakit yang diderita batin maupun raga sebagai manusia biasa. Sementara itu di sisi yang lain, hidup tak cukup menawarkan gelombang kebahagiaan yang bisa membuat kesusahan seperti kehilangan makna. Bahwa tengah berada di antara kesejukan dan ketentraman Tahura Djuanda mungkin tidak seberapa jika dibandingkan masalah-masalah yang menerpa hidup secara bergantian. Tetapi cukup memberikan pandangan baru mengenai cara menghindar dari keseharian yang tidak pernah lelah membebat saya. Suatu kenikmatan tersendiri, meski bukan sebagai sebuah achievement yang patut dibanggakan atau ditangisi karena terlalu bahagia.

Banyak bangunan kecil dari bahan bambu yang terbengkalai dan tidak terurus saya temui di sisi kiri jalan dari arah pintu gerbang utama yang saya tapaki. Kemungkinan bangunan-bangunan tersebut pernah menjadi semacam warung yang didatangi para wisatawan untuk sekedar duduk-duduk sembari menikmati minuman pelepas dahaga, karena beberapa bangunan sejenis masih digunakan untuk hal tersebut. Satu hal lagi kuliah tentang kehidupan. Suatu masa kita berada dalam kejayaan, di masa yang lain kita justru terjebak dalam pusaran kesusahan. Tidak perlu diratapi secara kontinu memang, tetapi yang namanya kesenjangan antara bahagia dengan nelangsa itu pasti akan selalu menggetirkan. Bangunan-banguna tersebut pasti pernah ramai oleh pengunjung, entah orang-orang asing dari Skandinavia ataupun murid-murid Sekolah Dasar yang sedang kebagian jatah karyawisata pelajaran IPA. Tetapi sekarang seperti bersalin muka dengan bedak kadaluarsa sehingga luarannya menjadi kusam. Tersisa hanya pilu yang menghiasi. Kepahitan yang berantakan. Mata kuliah pemaknaan hidup ini tidak bisa didapat dari semua kelas manapun pada universitas apapun. Intisari yang tercucukkan dalam pikiran manusia yang hanya bisa didapat hanya ketika kita mampu melihat setiap hal dalam sebuah perjalanan dengan cara pandang bahwa setiap hal itu pasti mengandung cerita di balik bentuk luarnya.

*****

Pukul dua siang waktu Dago Atas. Saya tengah duduk di samping dagangan rujak yang ada di depan loket tiket masuk tadi. Menikmati sepiring rujak yang kembali membuat saya tergiur, mungkin karena cukup lelah dan tenggorokan semakin kerontang karena dahaga. Tidak jauh dari tempat saya beristirahat sekelompok anak kecil turun dari sebuah bus pariwisata. Dengan wajah riang penuh semangat, mereka berlarian menuju loket tiket masuk Tahura Djuanda di belakang saya. Seperti melihat seorang Moses Parlindungan dan teman-teman  pada tahun 2000 ketika pertama kali datang ke sebuah tempat bernama Tahura Djuanda. Anak-anak yang sudah ada di dekat pintu masuk kemudian menjuruskan pandangan ke arah dagangan rujak di sebelah saya. Seperti tergiur dengan rujak yang rasanya setengah manis setengah pedas yang pada siang hari saat itu bak mata air bagi musafir dalam sebuah perjalanan napak tilas. Tetapi niat tersebut mereka kurungkan, mungkin karena teringat nasihat ibu mereka untuk tidak jajan sembarangan atau karena uang saku mereka tidak mencukupi untuk membeli sepiring rujak.

Setelah cukup lama menikmati romantisme sekaligus menyelami perenungan bersama pohon-pohon bisu di Tahura Djuanda, saya pulang dengan perasaan teduh. Tidak terpikirkan bahwa jalan yang akan saya tapaki dalam perjalanan pulang sebelum mendapatkan angkutan umum utnuk ditumpangi adalah jalan beraspal yang penuh debu dan melelahkan. Rupanya tidak perlu mahal-mahal mencari wangsit kehidupan. Di Tahura Djuanda, saya menemukannya di setiap langkah kaki di dalamnya.






February 20, 2014

Catatan dari Tur Jawa Barat Bagian Tengah-Selatan: Bogor-Bandung (I)

Di Bandung, saya menemukan kembali penggalan-penggalan ingatan yang sebelumnya tidak pernah terjamah lagi. Sudut-sudut kota yang saya jelajahi dengan sepeda motor membuat saya tersenyum mengiringi munculnya kenangan-kenangan tentang masa silam. Enam tahun di Bandung tidak akan pernah membuat saya lupa akan ketentraman yang ditawarkan kota itu. Sungguh melegakan ketika mengunjungi kembali tempat-tempat yang dulu sering saya datangi, untuk berjalan-jalan bersama keluarga, bersekolah, ikut mama berbelanja, atau sekedar lapak majalah tempat saya biasa membeli (tepatnya, dibelikan mama) majalah dulu. Enam tahun di Bandung terangkum dalam enam hari tetirah di sana. Terimakasih kepada Wilson Christoper, saudara saya sejak SMA yang memberikan kamarnya untuk saya tumpangi dan waktunya untuk menemani saya selama di Bandung. Semoga sukses dalam perkuliahan saudara di ITB.

Pada awalnya, saya hanya merencanakan untuk tinggal di Bandung selama tiga hari, sebagai bagian dari tur jawa yang menjadi tujuan saya di jeda kuliah antarsemester kemarin. Sebelumnya, saya tiga hari singgah di Bogor. Tidak terlalu memberikan kesan, cuaca yang buruk dan hujan deras yang awet membuat saya tidak bisa mengeksplorasi Bogor dan sekitarnya, setidaknya sesuai dengan harapan saya setiba di sana. Tiga hari di Bogor saya habiskan untuk sekedar “temu-kangen” dengan Devin, juga saudara saya sejak SMA yang sedang susah payah di Ilmu Komputer IPB. Sisanya, bukan sesuatu yang monumental untuk dikisahkan maupun dikenang. Dengan menggunakan bus MGI, pada tanggal 29 Januari akhirnya saya menyudahi tetirah saya di Bogor untuk melanjutkannya di Kota Bandung. Harga tiket busnya tidak terlalu mahal, Rp. 55.000,00 untuk bus yang menggunakan penyejuk udara di dalamnya.

Perjalanan dari Bogor menuju Bandung menghabiskan waktu selama kurang lebih tujuh jam. Pada satu titik di jalan tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung rusak parah akibat hujan deras yang mengakibatkan longsornya ruas jalan menuju Bandung. Kemacetan luar biasa pun tidak terhindarkan. Pukul sembilan malam, saya baru tiba di Terminal Leuwipanjang, setelah berangkat dari Bogor pada pukul dua siang. Sekitar pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit saya baru merasa benar-benar tiba di Bandung ketika bertemu dengan Wilson yang sebelumnya telah saya hubungi untuk menjemput di depan sebuah rumah makan cepat saji di bilangan Dago.

Fast-forward. Kemudian saya terbangun di pagi hari tanggal 30 Januari. Tidur yang sangat melegakan, sebagaimana tidur pada umumnya ketika masa liburan. Ketika bangun saya sendirian, Wilson tidak ada. Mungkin sudah berangkat kuliah, pikir saya. Waktu perkuliahan di ITB memang sudah berjalan ketika saya yang mahasiswa UGM baru saja memulai masa libur. Hal yang sama berlaku sebaliknya, ketika di ITB libur di Yogyakarta mahasiswa UGM masih berkutat di kampus untuk kuliah.

Banyak rencana yang terhidang di etalase pikiran saya mengenai bagaimana cara menikmati Bandung selama tiga hari saja. Wilson pada malam sebelumnya juga telah mengajak saya untuk ikut mendaki gunung bersama teman-temannya dari ITB. Nama gunungnya Gunung Manglayang. Terlepas dari ketidaktahuan bahwa ada sebuah gunung dengan nama itu di pulau Jawa, saya tidak segera mengiyakan karena pada saat itu cuaca sangat buruk dan tidak bisa diperkirakan kapan waktunya akan cerah dan kapan waktunya hujan akan turun berdatangan. Melalui banyak pertimbangan (waktu, ongkos, dsb) juga riset di internet, saya putuskan untuk mengunjungi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Tahura Djuanda) dan Kineruku. Tempat yang pertama bukan sesuatu yang baru bagi saya. Ketika enam tahun tinggal di Bandung, seluruh masa di Sekolah Dasar saya habiskan di sana, Tahura Djuanda sering saya kunjungi baik bersama keluarga ataupun ketika sekolah saya mengadakan karyawisata. Tempat yang kedua, murni karena keingintahuan yang besar, yang pernah direkomendasikan untuk dikunjungi di Bandung oleh salah seorang saudara saya di Fakultas Hukum UGM bernama Hilman Fathoni. Dari informasi yang dipeoleh melalui laman twitternya dengan akun @kineruku, tempat tersebut menawarkan suasana kafe yang dijejali buku, koleksi film serta musik yang berkualitas. Tentu saya akan menyesal jika meninggalkan Bandung tanpa bertandang kesana.

Setelah menyantap kupat tahu sebagai sarapan, saya menuju tempat yang pertama. Jaraknya cukup dekat dengan pondokan Wilson, sekali menggunakan angkutan umum dengan trayek Dago-Kalapa. Saya turun di terminal Dago untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Awalnya saya mengira bahwa jarak yang terbentang dari Terminal Dago menuju Tahura Djuanda mudah dicapai dengan berjalan kaki. Pada kenyataannya justru seperti berjalan kaki dari Bunderan Hotel Indonesia menuju Stadion Gelora Bung Karno. Ternyata masih jauh dari terminal Dago! Bahkan saya melihat angkutan umum Dago-Kalapa ramai berseliweran di jalan raya setelah Terminal Dago, searah dengan jalan yang saya tapaki menuju Tahura Djuanda. Dalam hati saya mengutuki diri sendiri, karena ternyata tidak semua mobil Dago-Kalapa memiliki tepat perhentian terakhir di Dago. Tetapi saya mengurungkan niat tersebut, karena berpikir bahwa tujuan saya tidak jauh lagi, sangat tanggung jika menumpang mobil Dago-Kalapa.


Ternyata memang masih jauh. Peluh membanjir di seluruh tubuh seketika, angkasa begitu kejam untuk menebarkan cahaya matahari dengan keterlaluan. Gambar-gambar calon anggota dewan yang menjamur di sisi kiri maupun kanan jalan semakin menambah rasa kesal yang sebentar-sebentar bisa saja meledak dari kepala dan hati saya. Beruntung ada sumpah serapah dan kata-kata kotor, saya bisa mengeluarkan rasa kesal itu melalui mulut saya. Satu lagi, kontur jalannya cukup menanjak, jika tidak bisa disebut terjal. (bersambung ke bagian dua)

February 13, 2014

PERJALANAN ADALAH PERENUNGAN SEMATA (Pengantar Tur Jawa Barat Tengah-Selatan)



Bagi saya, sebenar-benarnya sebuah perjalanan adalah sebuah pertemuan dengan kesendirian. Kemudian ketika keduanya saling bersinggungan dan mencapai pertautan yang tepat, yang muncul ke permukaan hanyalah sebuah perenungan. Perjalanan dalam pikiran saya adalah bukan tentang keindahan yang menjadi tujuan atau sekedar pemandangan memabukkan dan mengundang decak kagum. Perjalanan itu adalah perenungan.


Perenungan tidak pernah memaksa saya untuk menjadi sempurna. Perenungan adalah jalan keluar di tengah hari-hari yang mungkin tidak akan pernah berakhir dengan tenang sampai detiknya yang paling belakangan. Itulah mengapa saya amat gemar dengan sebuah perjalanan. Sebuah perenungan seutuhnya.


Pada akhirnya, semuanya akan menjadi kenangan. Menjadi bagian dalam ingatan yang tidak akan bisa dilupakan. Menyatu dalam pikiran dan hati sampai nanti ketika menjalani hidup di masa depan. Semua hal ini adalah tentang sebuah perjalanan. Tigabelas hari yang sangat berkesan, dalam perkelanaan di Jawa Barat bagian tengah-selatan. Bersama bus tua yang masih kokoh sampai bus berpenyejuk udara yang meninabobokan. Ditemani nyamuk-nyamuk pesisir sampai burung-burung mata air yang berkelinjatan. Serta hal-hal lain yang menemani perkelanaan yang saya lakukan.

Pada akhirnya, semua akan menjadi kenangan, itu pasti.


Mulanya saya merencanakan sebuah perjalanan panjang menyusuri kronik-kronik yang terpenggal di seluruh Pulau Jawa, dari barat sampai tapal batasnya di timur. Waktu yang terbatas karena harus membereskan banyak hal di kampus nyatanya memang menghentikan langkah saya sehingga hanya sampai ujung tenggara dari provinsi Jawa Barat, tepatnya di Pangandaran. Di waktu lain, pada kesempatan yang lain, saya berjanji untuk menebus “dosa” kepada impian saya itu. Semoga saja.

Bogor. Bandung. Garut. Pulau Santolo. Pangandaran. Citumang. Gunung Padang. Selama tigabelas hari.


 
 
 
 

August 15, 2013

Lombok dalam Kali Pertama

Sangat pantas jika menyebut Lombok sebagai wajah eksotisme Indonesia yang sebenarnya. Kesurgawian Lombok dapat dideskripsikan melalui panorama pegunungan yang menyejukkan, puluhan pantai ekselen yang menawarkan diferensiasi sensasi satu sama lain, citarasa kuliner yang akan selalu terhidang dalam kenangan, serta berbagai fenomena sosial yang mewarnai perjalanan saya selama empat hari disana.
            Ketika saya terduduk di pesisir pantai Gili Trawangan, saya menemukan lokasi perenungan yang tidak kalah menelangsa dibandingkan dengan Bukit Plawangan dan Gunung Nglanggran di Yogyakarta. Nuansa kosmopolitan Lombok yang disesaki oleh turis mancanegara mengingatkan saya pada suasana pedestrian di Jalan Dewi Sita di Ubud yang membuat saya merasa seperti berjalan kaki di negeri orang saja. Belum lagi keramahan penduduk asli Lombok yang berasal dari suku Sasak yang juga tidak akan terlupa. Saya amat menantikan kesempatan kedua mengunjungi Lombok. Saya masih berutang pada tendensi pribadi, untuk menyelam disana. 



Rumah Adat Suku Sasak di Desa Sade. Masyarakat asli di Desa Sade memiliki kebiasaan unik yakni memakai kotoran kerbau untuk mengeraskan bangunan rumah sebagai pengganti semen. Tentunya dengan banyak pertimbangan. 

Sebuah cidomo (alat transportasi tradisional khas Lombok) "parkir" di kawasan Senggigi. Meski sudah larut malam, Senggigi tetap ramai, sekian.

Panorama Selat Lombok dari Bukit Malimbu. Tanah di kawasan Bukit Malimbu, berdasarkan penjelasan driver saya, sudah banyak dicaplok oleh Warga Negara Asing meskipun secara de jure kepemilikan dalam sertifikat berada di tangan Warga Negara Indonesia.

Panorama Selat Lombok dari Bukit Malimbu. Tanah di kawasan Bukit Malimbu, berdasarkan penjelasan driver saya, sudah banyak dicaplok oleh Warga Negara Asing meskipun secara de jure kepemilikan dalam sertifikat berada di tangan Warga Negara Indonesia.

Sebuah cidomo beroperasi menuju Dermaga Bangsal, akses perahu publik menuju kawasan 3 Gili. 

Awak perahu Glass Bottom Boat yang menemani saya dalam eksplorasi keliling 3 Gili. Pesona 3 Gili selalu menjadi daya tarik utama pariwisata Lombok berkat keindahan pantai dan bawah lautnya.

Konservasi Kura-Kura di Gili Trawangan yang juga cukup mengundang perhatian wisatawan yang datang ke Gili Trawangan.

Tidak cukup sehari untuk menghitung jumlah wisatawan mancanegara yang memadati Gili Trawangan. Secara kasat mata berdasarkan penghitungan saya secara kasar, setiap jarak dua meter setidaknya terdapat lima orang wisatawan mancanegara, jumlah yang membuat saya sempat merasa seperti terinvasi di nusantara saya sendiri.

Begitu bernafsu dedaunan yang lanjut usia itu, bahkan matinya terlepas dari inginnya, dalam penghambaannya kepada matahari. (Gili Trawangan)

Sepasang wisatawan mancanegara menikmati keindahan panorama sunset di pesisir Gili Trawangan, sementara di bagian pesisir lainnya, Gili Trawangan sudah siap larut dalam hiruk-pikuk kehidupan malam.

Perahu penyeberangan pertama dari Gili Trawangan menuju Dermaga Bangsal sudah beroperasi sejak pukul 07.00 WITA, sementara mentari masih bersiap dalam peraduannya, untuk seharian memberikan pancaran sinar bagi wisatawan mancanegara yang gemar menghitamkan kulit.

Air Terjun Sendang Gile (wisatawan mancanegara menyebutnya Sendang Gile Waterfall, pemandu wisata juga menyebutnya Sendang Gile Waterfall). 


Seorang lelaki paruhbaya sedang menikmati minumannya, sedangkan lelaki tanggung sedang menggaruk punggungnya di Air terjun Sendang Gile.


Dilihat dari bentuk hidungnya, sekelompok wisatawan mancanegara ini berasal dari keluarga yang sama. Mereka kemungkinan berasal dari Perancis, dilihat dari bentuk hidungnya. (Jembatan menuju Air Terjun Tiu Kelep)

Sungai ini mengalir deras, banyak anak kecil menjadi takut karena licin. Tetapi banyak juga anak kecil yang gembira karena senang main air. Wisatawan harus melalui sungai ini sebelum mencapai Air Terjun Tiu Kelep, sekitar 15 menit berjalan kaki dari Air Terjun Sendang Gile.


Air Terjun Tiu Kelep dari jarak beberapa-beberapa meter.


Masjid Kuno Bayan Beleq, saksi keberadaan agama Islam pertama-tama di Pulau Lombok. Masjid ini merupakan masjid pertama yang didirikan di Lombok, menyusul kemudian ribuan masjid didirikan sehingga Lombok juga dikenal sebagai Pulau 1000 Masjid.

Perempuan di Desa Sukarara wajib memiliki keahlian menenun sebagai syarat dapat melakukan perkawinan. Perempuan dimana lagi di belahan dunia mana yang juga harus pandai menenun sebelum dapat melakukan perkawinan? Ini sebuah pertanyaan. 

Pantai Selong Belanak dipenuhi oleh wisatawan domestik. Seorang remaja berbaju kuning terlihat terpukul dengan musibah yang baru saja dialaminya.

Dilihat dari cara mereka berjalan, kedua wisatawan mancanegara ini dapat dikira-kira berasal dari Belgia, tempat dimana Marouane Fellaini dan Radja Nainggolan dilahirkan. (Pantai Selong Belanak)

Dari cara mereka tertawa, saya dapat mengira-ngira bahwa ketiga anak kecil tersebut bernama (dari kiri ke kanan) Yati, Agus, dan Boris. (Pantai Selong Belanak)

Kurt Cobain sedang bersiap-siap surfing di Pantai Selong Belanak.

Kebersihan sebagian dari iman. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Pemeo kuno. (Pantai Selong Belanak)

Dalam perjalanan dari Pantai Selong Belanak menuju Pantai Mawun, saya menjadi saksi bagaimana semesta berdifusi dengan takdir untuk menciptakan sebuah lukisan syahdu seperti ini.

Pantai Mawun yang bukan di Yaman.

Pertambangan Emas Rakyat di Desa Selong Belanak, dalam perjalanan dari Pantai Selong Belanak menuju Pantai Mawun. Masyarakat setempat menggantungkan hidup pada emas, seiring dengan lahan kering yang sulit dijadikan lahan pertanian. 

Pantai Kuta yang bukan di Bali.

Pasir di Pantai Kuta seperti diimpor dari Pabrik Biji Merica di Negeri Merica. 

wisatawan mancanegara tua memilih untuk tidak bersunbathing di Pantai Kuta, mungkin karena usianya yang lanjut sehingga kulitnya mudah kering.